Entri Populer

Selasa, 26 Oktober 2010

Telah terjadi peristiwa yang cukup besar efeknya terhadap imej dan cara pandang publik terhadap mutu barudak Bandung secara keseluruhan (termasuk didalamnya komunitas PERSIB). Yaitu mengenai insiden yang melibatkan para pengurus Viking dan tim pembuat film romeo-juliet, insiden tersebut terjadi di Paris Van Java pada hari jumat yang lalu. Semua bermula dari substansi film romeo-juliet yang sangat tendensius dan cenderung memojokkan Bandung, dari mulai mental wanita Bandung yang murahan hingga para bobotohnya yang barbar, sangat wajar pula jika barudak Bandung, termasuk para bobotoh (baca viking.red). Maka setelah bersepakat dengat para budayawan dan para pemerhati film, sekelompok anak-anak Bandung mempertanyakan kualitas dan etika serta filosofis film romeo-juliet, tim pembuat film (terutama sutradara dan penulis skenario) dianggap tak memahami secara kultural dan historis mengenai konflik yang dimunculkan dalam film tersebut, dan celakanya lagi sang sutradara yang secara territorial dan kedekatan justru lebih dekat dengan salah satu pihak dalam film itu, yaitu anak-anak jakmania, sehingga wajar jika opini dan alur cerita pun banyak dipengaruhi oleh anak-anak Jakarta. Namun justru film dengan segala kekurangannya ini tidak begitu menarik perhatian warga Bandung, tak ada antrian dan animo berlebih dari barudak Bandung untuk menyaksikan film ini, dan setelah seminggu setelah penayangannya film ini pun tetap sepi-sepi saja dari pembicaraan.

Nah disaat keadaan sudah biasa seperti ini sesungguhnya semua kegerahan yang dirasakan komunitas Bandung itu sebenarnya mulai menyejuk, disisi lain keadaan seperti ini justru tak menguntungkan bagi pihak pembuat fim, karena pada awal membidik isu perseteruan supporter yang salah satu kelompoknya berasal dari kota Bandung mereka tentu mengharapkan film ini dapat booming dan “menggoda” untuk mengundang minat anak-anak Bandung. Lalu entah bagaimana caranya tiba-tiba pertemuan antara pihak pembuat film dan komunitas Bandung yang berkeberatan yang rencananya dialogis terkait film tersebut tiba-tiba berujung ricuh, dan celakanya anak-anak Bandung seakan tidak menyadari bahwa mereka memakan umpan para pembuat film, seseorang berinisial U(dari tim pihak pembuat film) yang mengaku sebagai korban dari insiden tersebut langsung menyebar secara subjektif mengenai apa yang terjadi terhadap dirinya, celakanya lagi U adalah orang yang dikenal cerdik, licik dan cukup intelek untuk mengemas sebuah konflik menjadi tombak tajam untuk membunuh lawan mainnya, hampir semua perkataan lawan bicaranya dapat ia pelintir dan diputarbalikkan. Dengan retorika handal dan relasi media yang kuat (terutama di ibukota), U mulai menyiapkan langkah berikutnya, berita ini menyebar dengan cepat, tentunya seluruh kronologis pun diceritakan menurut versi U, respon pun bermunculan beberapa jam kemudian, seorang kawan dari televisi nasional pun langsung mengonfirmasi penulis mengenai insiden tersebut dan langsung tertarik untuk menjadikannya sebagai isu liputan, dari sini saja maka apa yang diinginkan U sudah mulai tercapai, yaitu film yang sebenarnya kurang bermutu ini menjadi pembicaraan banyak orang dan membuat banyak orang menjadi penasaran, ibarat seorang artis murahan dan tidak berkualitas yang menjadi terkenal dan diekspos media justru karena skandal-skandal diluar dunia akting.

Mendengar paparan dari beberapa orang kawan bahwa insiden secara fisik memang dipicu oleh salah seorang anak Viking, maka penulis semakin tergelitik dan berpendapat bahwa anak-anak Bandung telah kalah secara strategi dan kematangan, saat U cs yang mengandalkan taktik, retorika, argument serta otak dingin justru dihadapi oleh anak-anak Bandung yang temperamen, kurang cerdas, mudah emosi dan tak memiliki kemampuan untuk membaca situasi serta keadaan, hal ini diperparah disaat barisan intelek dan pemikir yang menyertai mereka saat pergi ke Blitz megaplex di PVJ justru memilih pulang lebih dahulu sebelum insiden tersebut terjadi, padahal diantara mereka yang pulang lebih dulu itu terdapat nama-nama barudak Bandung yang dikenal cerdas, serta matang dalam bertindak dan memegang forum serta mamanage konflik seperti ini, sebut saja Gustaff, menantu Prof. Himendra Wargahadibrata, direktur commonroom dan panutan bagi komunitas kreatif Bandung. Maka dapat dibayangkan apa yang terjadi, dengan berkorban sedikit memar dan pecah kacamata, kini U cs sukses memegang kendali, apa yang mereka inginkan tercapai, meski jujur saja bahwa film yang mereka buat memang tidak berdasar dan terlalu mengada-ngada serta sangat memojokkan Bandung dari sudut pandang yang terlalu “jakmania”, namun toh sejak jumat yang lalu film itu semakin banyak dibicarakan oleh media.

Terbayang apa yang U obral disana, setelah menjatuhkan imej mojang Bandung dalam film (dia pernah mengatakan bahwa cewek Bandung memang murahan, kenal jam 12 siang maka maghribnya sudah bisa diajak tidur-meski beberapa mungkin iya, terutama perempuan bermental labil & grupis, namun tetap saja judgement seperti itu tak dapat diterima oleh masyarakat Bandung yang menjunjung adat dan budaya, bahkan mojang-mojang yang asli Bandung dan berdarah sunda cenderung konservatif dan menabukan hal-hal erotis), kemudian gambaran kasar dan barbar bobotoh melalui ekspresi ucapan kasar bobotoh difilm itu (pembuat film tak pernah mempelajari bahwa kata “anjing” yang biasa kita dengar dikota kembang intonasinya tidak sarkas dan sama sekali tidak beresensi menghina serta melecehkan orang, konteksnya cenderung akrab dan heureuy, sungguh berbeda dengan apa yang yang terucap dari mulut alex komang dkk difilm itu, kata “anjing” benar-benar mencerminkan sang pengucap tidak beradab dan berbudaya).

Maka kini U mungkin dapat berkata “tuh kan bener apa kata gue, sama ama yang di film, mereka emang preman, biasanya maen pukul, padahal udah gue ajak dialog” kepada orang-orang dan media diluar sana. Maka untuk kedepannya, separah apapun kita dipojokkan dan meski yang memojokkan kita itu adalah orang-orang busuk dan jahat, namun tetap untuk menyelesaikannya perlu kita pilih orang-orang yang tepat, orang-orang yang tak mudah terkena settingan pihak lain dan tidak lugu serta polos dengan ”memakan umpan”, namun kini semua telah terjadi, dihadapan beberapa komunitas (komunitas pecinta film, komunitas sepakbola luar Bandung, komunitas pemerjuang kebebasan berekspresi, komunitas media dll), yang tengah mereka bicarakan adalah sebuah kota dimana banyak terdapat sekolah berkualitas dan perguruan tinggi favorit serta banyak melahirkan pemikir serta orang-orang kreatif, namun ternyata para pemudanya dapat dengan mudah dikendalikan… padahal semua itu telah kita sikapi dengan benar pada awalnya, yaitu dengan bersikap……biasa saja……

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar