Entri Populer

Senin, 25 Oktober 2010

"LASKAR GARUDA AROMA SAMBA" MEMIKAT HATI PARA PECINTA BOLA INDONESIA DI SENAYAN

Pada periode 1982-1983, ketua umum PSSI saat itu - Syarnoebi Said menggulirkan ide proyeksi pembinaan pemain usia muda yang dinamakan PSSI GARUDA, yang diharapkan dikemudian hari mampu menjadi tumpuan dan andalan timnas sepakbola indonesia yang mumpuni,. Maka Syarnoebi Said merancang segala sesuatunya bersama staf pengurus PSSI yang lain agar proyeksi ini bisa berjalan baik dengan menunjuk pelatih asal brazil Joao Barbatana menjadi pelatih timnas yunior PSSI GARUDA, yang nantinya para punggawanya akan diambil dari kejuaraan nasional yunior Suratin Cup yang rata-rata pesertanya berusia 20 tahunan.

Para anak muda ini pun nantinya akan di gembleng di brazil, dipilihnya pelatih asal Amerika Latin, untuk menangani timnas Indonesia. Meski tingkat yunior ini bisa dibilang kejutan buat penggemar bola tanah air. Karena sepanjang sejarahnya PSSI lebih banyak berkiblat pada pelatih-pelatih asal Eropa, mulai Tony Pogacnik dari Yugoslavia era 1950-1960-an, hingga Wiel Coerver dan assistennya Wim Hendriks asal Belanda di periode 1970-an hingga Frans van Balkom (Belanda) di akhir 1970-an, Marek Janota (Polandia) serta Bernd Fischer (Jerman Barat) awal 1980-an,

Terbentuknya PSSI GARUDA ini juga bentuk penyempurnaan kepengurusan PSSI era Syarnoebi Said terhadap kepengurusan PSSI era Ali Sadikin sebelumnya (dimana Syarnoebi Said juga jadi salah satu pengurus intinya) yang sudah memperhatikan penguatan pembinaan di sektor yunior lewat digalakkannya turnamen-turnamen level yunior dan pembentukan timnas yunior gabungan galasiswa, timnas pelajar serta bakat-bakat terpilih dari invitasi-invitasi turnamen yunior tingkat nasional dan daerah.

Perhatian dan harapan ketua umum PSSI Syarnoebi Said - tokoh gila bola asal Sumatera Selatan - terhadap PSSI GARUDA sangat besar sampai-sampai PSSI yunior ini dikirim ke turnamen bergensi President Cup 1982 di Seoul. Padahal, biasanya yang dikirim ke Korsel adalah timnas senior dikarenakan gengsi turnamen non-resmi tersebut yang besar, menghadapi tim-tim senior negara lain PSSI GARUDA mampu memberikan perlawanan berarti meski gagal lolos dari penyisihan grup (hanya menempati peringkat 3 grup).

Menghantam India 1-0 di partai pembuka, kemudian dihantam tim tuan rumah Korsel 0-3 di partai kedua,.dipartai ketiga ditahan Bahrain 1-1,.sebelum di hajar PSV Eindhoven dipartai pamungkas grup 0-4, lambat laun tangan dingin Barbatana membuat tim PSSI GARUDA semakin berkelas dan mumpuni, kehadiran Barbatana juga menuai pujian dari masyarakat bola nasional yang masih keranjingan demam "jogo bonito" Brazil Piala Dunia 1982 asuhan Tele Santana yang jadi idola era itu.

Para punggawa PSSI GARUDA yang memang rata-rata berusia 20 hingga 23 tahun cukup menuai pujian atas kinerja mereka mengingat yang mereka hadapi adalah tim-tim senior. Yang paling banyak menuai pujian adalah anak muda berdarah Aceh - Marzuki Nyak Mad dari PSMS Medan yunior yang masih duduk dibangku SMA saat itu.,

Tahun 1983 saat usianya masih sangat belia dan masih duduk dibangku SMA ia membawa tim senior PSMS Medan menjadi juara nasional perserikatan dengan menjungkalkan Persib bandung didepan 100.000 penonton pada final di Senayan. Aksinya mematikan pergerakan bintang Persib Bandung - Adjat Sudrajat menuai banyak pujian. Selain Marzuki juga ada beberapa pemain berbakat dari Medan yang masuk tim ini yakni Patar Tambunan dan Azhari Rangkuty.

Pemain muda Persib Robby Darwis yang membawa Persib yunior jadi finalis kejurnas PSSI yunior Suratin Cup 1982 dan membawa Persib senior jadi finalis kejuaraan nasional perserikatan 1983, juga diminati untuk bergabung dengan PSSI GARUDA, namun keputusannya bermain di Tunas Inti - Galatama membuat statusnya semipro dan klub Galatama saat itu punya otonomi khusus yang tidak bisa diganggu gugat PSSI.

Jadi sulit buat barbatana menggaet Robby Darwis bergabung di pelatnas arahannya, sementara Tunas Inti yang mengontraknya yang pasti tidak akan mengijinkan hal tersebut. Juga ada Abdul Khamid pemain berbakat dari Surabaya, Budiawan Hendratmo dari PSIS Semarang, Hermansyah dari Jawa Barat, Sain Irmis, Anjar Rachmulyono dll. Babak belurnya timnas senior di SEA GAMES 1983 Singapura (salah satunya dihajar thailand 0-5) semakin membuat PSSI menaruh harapan besar pada tim ini.

Apalagi setelah timnas senior besutan M.Basri lagi-lagi babak belur di pra Olimpiade 1984 - membuat Syarnoebi Said mengajukan keputusan jantan dan bertanggung jawab  dengan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua umum PSSI, meski masa jabatannya masih tersisa 2 tahun lagi, Namun sebelum mundur Syarnoebi Said memandatkan tim PSSI GARUDA ini tetap dipertahankan oleh kepengurusan PSSI selanjutnya (akhirnya Kardono yang terpilih menyisihkan Probosutedjo dalam persaingan).

Dan amanat serta pondasi yang telah dibangun Syarnoebi Said dan Ali Sadikin ini pun dilanjutkan Kardono dengan baik. Ujian selanjutnya di Piala Raja (King's Cup) 1984, PSSI yang patah arang dengan prestasi timnas senior yang meski diperkuat bintang-bintang Galatama dan Perserikatan babak belur di setiap ajang, memutuskan untuk mengirimkan anak-anak muda ini ke Thailand, sedang untuk Merdeka Games 1984 di Malaysia yang dikirim para pemain terbaik Perserikatan musim 1983 yang dipimpin Adjat Sudrajat, Ponirin Meka, Elly Rumaropen, Abdi Tunggal, Budi Yohannes Cs.

Ternyata hasil yang dituai anak-anak muda Garuda di Thailand sungguh menghentak publik bola Asia Tenggara, dalam turnamen yang dihelat Januari 1984 itu, Marzuki Nyak Mad dkk menghantam Filipina 7 - 0, klub Korsel - Kookmin Bank 2 - 1. serta Singapura 5 - 0. Walau ditekuk Piyapong Pue On dkk 0 - 2, laskar Garuda tetap melaju ke semifinal mendampingi tuan rumah Thailnad. Di semifinal menanti timnas negara bagian Australia Barat yang beberapa bulan sebelumnya mempermalukan timnas Indonesia senior pra Olimpiade 0-1 di Senayan dalam uji coba, namun Marzuki Nyak Mad dkk ternyata mampu menekuk Australia Barat 2 - 1 di bangkok untuk melaju ke final.

Sain Irmis di sebut-sebut media Thailand sebagai bintang di semifinal, Sayang di final Hermansyah dkk tak mampu menahan ketangguhan Piyapong Pue On dkk hingga dihajar 0 - 3. Namun prestasi masuk final Piala Raja 1984 itu, merupakan yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir di turnamen tersebut era itu,

Akhirnya PSSI kepengurusan Kardono memutuskan menunjuk Joao Barbatana dan pasukannya menjadi timnas senior yang akan diterjunkan di kualifikasi Piala Asia 1984 di Jakarta. Tentu akan menjadi pertaruhan besar mengingat tim ini adalah timnas U-23. Indonesia tergabung dalam group 1 dalam undian AFC bersama raksasa Asia  - Iran, kuda hitam Timur Tengah - Syria, raja Asia Tenggara saat itu Thailand (juara SEA GAMES 1981 dan 1983), Filipina serta Bangladesh,.Burma (kini Myanmar) mantan raksasa Asia Tenggara yang sebenarnya juga tergabung di grup ini akhirnya mengundurkan diri dikarenakan krisis politik dalam negeri.

Indonesia punya peluang besar untuk lolos karena ditunjuk AFC sebagai tuan rumah kualifikasi dengan sistem home tournament tersebut. Juara dan runner up kualifikasi grup akan lolos ke Piala Asia 1984 di Singapura,.Thailand sangat berambisi dan yakin lolos mengingat mereka sedang dalam generasi emasnya, bahkan media-media Thailand saat itu meremehkan kekuatan indonesia merilis pada SEA GAMES 1983 dimana timnas Thailand menghantam timnas kita 0 - 5, serta dua kemenangan selanjutnya di piala raja 1984, yaitu 0 - 2 dan 0 - 3. Partai pembuka menjadi partai yang krusial, apalagi tim PSSI GARUDA ini benar-benar dinanti-nanti, karena dalam uji coba pun mereka menampilkan permainan yang menawan walau bermasalah pada penyelesaian akhir.

Di depan gemuruh 100.000 penonton yang memenuhi Senayan, 6 agustus 1984 - Marzuki Nyak Mad dkk membuat malu Piyapong Pue On dkk yang sangat jumawa sebelum pertandingan dengan menaklukkan mereka 2 - 1. Spanduk-spanduk berisi pujian pada PSSI GARUDA yang terhampar di pagar tribun Stadion Utama (majalah Jakarta-Jakarta 1990 "mengulas PSSI GARUDA I dan PSSI GARUDA II ) pun nampak berkibar.

Kemenangan ini benar-benar disambut gembira kubu indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir waktu itu sulit mengalahkan Thailand di event resmi, Apalagi PSSI GARUDA saat itu menampilkan permainan yang sangat cantik ala Samba Brazil yang membuat puas dahaga pendukungnya, Di partai kedua indonesia membenamkan Bangladesh 2 - 1 dan di partai ketiga menghempaskan Filipina 1 - 0. Namun di partai ketiga ini kritik mulai muncul.

Para penggemar mengkritisi para penyerang yang tak mampu mengkonversi sekian banyak peluang menjadi gol, di pertandingan keempat Marzuki Nyak Mad dkk mampu membuat unggulan utama Iran kepayahan dan hanya kalah sial 0 - 1 lewat gol di akhir-akhir pertandingan.di pertandingan akhir melawan Syria posisi indonesia adalah runner up dan unggul 2 poin atas Syria dan Thailand, Cukup draw dengan Syria Marzuki dkk akan mengukir sejarah lolos pertama kalinya ke Piala Asia.

Di mana sebelum-sebelumnya Indonesia selalu terbentur sial dan bagai jadi mitos sehingga selalu gagal untuk lolos dari kualifikasi Piala Asia. Namun Syria pun hanya butuh menang 1 gol saja mereka pun akan lolos sebagai runner up, karena memiliki selisih gol lebih baik dari Indonesia dengan catatan Thailand, tidak menang dengan selisih 3 gol atas Bangladesh. Namun yang terjadi seperti dicatat harian Kompas 16 Agustus 1984, "Anak-anak muda Garuda tak mampu memberi hadiah istimewa buat ulang tahun negaranya dan gagal membuat sejarah, permainan menyerang yang menawan ala Samba yang membuat kita unggul 1-0 dan sukacita pendukung meledak langsung pudar begitu Aji Ridwan Mas berulangkali gagal memanfaatkan peluang emas dan pasukan garuda kendor di 10 menit terakhir dimana Syria mampu membalikkan keadaan dan tangis kekecewaan lagi-lagi begitu hingar di Senayan setelah pra Olimpiade 1976 dan SEA GAMES 1979".

Kegagalan di Piala Asia '84 tak mengurangi respek PSSI dan publik bola indonesia pada Joao Barbatana, sang arsitek asal Brazil, malah Kardono memintanya jadi pelatih reguler timnas senior. Namun Barbatana yang setelah gagal di kualifikasi pamit pulang ke Brazil dan berjanji akan memenuhi permintaan publik bola Indonesia sekembalinya dari Brazil nanti.

Ternyata akhirnya tak pernah kembali untuk memenuhi permintaan dan ekspektasi publik bola Indonesia saat itu padanya. Namun dikemudian hari para alumnus proyeksi PSSI GARUDA I yang berlatih di BRAZIL ini benar-benar memenuhi harapan para penggagasnya dahulu. Hermansyah, Sain Irmis menjadi andalan dan kebanggan timnas Indonesia saat jadi juara Sub-Grup pra Piala Dunia 1986. Marzuki Nyak Mad, Patar Tambunan, Azhari Rangkuty selain anggota tim PPD 1986 juga membawa keharuman buat timnas saat jadi juara IV ASIAN GAMES 1986 Seoul, dan juara SEA GAMES 1987 untuk pertama kalinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar